Nawa Malaning Cipta dalam Kawruh Uttamopadesa, Sembilan Sumber Penyimpangan Laku
Nawa Malaning Cipta merupakan salah satu bagian dari Kawruh Uttamopadesa yang membahas sembilan sumber penyimpangan laku yang dapat tumbuh dari keadaan cipta yang tidak jernih. Istilah nawa berarti sembilan, sedangkan malaning cipta menunjuk pada keadaan atau kecenderungan cipta yang dapat mengotori kejernihan budi dan mempengaruhi rasa, karsa, serta laku manusia.
Nawa Malaning Cipta ini dipopulerkan oleh Dhimas Purnomo melalui Serat Nawa Malaning Cipta sebagai bagian dari pengembangan kawruh Uttamopadesa.
Sembilan sumber penyimpangan tersebut adalah Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepéngin Nguasani, Kaserakahan, dan Lali Marang Kasunyatan.
Kesembilan hal tersebut tidak dimaksudkan sebagai daftar kesalahan untuk digunakan dalam menghakimi orang lain. Justru sebaliknya, Nawa Malaning Cipta merupakan cermin untuk melihat diri sendiri.
Manusia sering lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada mengenali gerak cipta yang terjadi di dalam dirinya.
Padahal, penyimpangan laku biasanya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dapat berawal dari pikiran, berkembang menjadi rasa, kemudian mendorong karsa dan akhirnya tampak dalam laku.
Karena itu, mengenali Nawa Malaning Cipta merupakan bagian dari usaha membersihkan diri. Tujuannya bukan menjadi manusia yang merasa paling suci atau paling benar, melainkan menjadi manusia yang semakin mampu melihat keadaan dirinya dengan jujur.
1. Pambengkakan Aku atau Kumingsun.
Pambengkakan Aku atau kumingsun adalah kecenderungan cipta yang membuat seseorang merasa dirinya paling benar, paling utama, paling mampu, atau lebih tinggi daripada orang lain.
Kumingsun dapat membuat seseorang sulit menerima nasihat dan kritik. Pandangan yang berbeda dianggap sebagai kesalahan, sementara pendapat sendiri dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu diperiksa kembali.
Dari keadaan tersebut dapat tumbuh kebiasaan memamerkan kelebihan, meremehkan orang lain, tidak mau belajar, dan sulit mengakui kesalahan.
Masalah terbesar dari kumingsun bukan sekadar sikap sombong yang terlihat dari luar. Yang lebih mendasar adalah tertutupnya ruang belajar di dalam diri. Seseorang yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu tidak lagi memiliki dorongan untuk memeriksa pemahamannya.
Karena itu, pembersihan Pambengkakan Aku dilakukan melalui kerendahan hati.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri atau menganggap diri tidak memiliki kemampuan.
Rendah hati berarti menyadari bahwa pengetahuan manusia memiliki batas dan bahwa selalu ada kemungkinan dirinya belum memahami sesuatu secara utuh.
2. Ngluru Ganjaran atau Pamrih.
Ngluru Ganjaran atau pamrih merupakan kecenderungan melakukan sesuatu dengan harapan memperoleh balasan tertentu.
Seseorang dapat melakukan kebaikan, tetapi di balik kebaikan tersebut terdapat keinginan mendapatkan pujian, penghargaan, keuntungan, kedudukan, perhatian, atau balasan.
Ketika balasan tidak datang sesuai harapan, muncul rasa kecewa. Dari kekecewaan itu dapat tumbuh keluhan dan perasaan bahwa dirinya tidak dihargai.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbuatan baik masih bergantung pada hasil yang diterima dari luar.
Cipta yang semakin jernih belajar membedakan antara berbuat baik karena menyadari kebaikan dan berbuat baik karena mengharapkan ganjaran.
Ketulusan bukan berarti seseorang tidak boleh menerima penghargaan. Ketulusan berarti penghargaan tersebut bukan tujuan utama dari perbuatan baik.
3. Ora Rena Liyan atau Drengki.
Ora Rena Liyan atau drengki adalah keadaan ketika seseorang sulit merasa senang melihat kebahagiaan, keberhasilan, atau kemajuan orang lain.
Keberhasilan orang lain dapat dirasakan sebagai ancaman terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, seseorang lebih mudah melihat kekurangan daripada kelebihan orang lain.
Drengki sering berkaitan dengan kebiasaan membandingkan diri. Ketika harga diri selalu diukur berdasarkan pencapaian orang lain, kehidupan menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
Padahal, keberhasilan seseorang tidak mengurangi nilai kehidupan orang lain.
Membersihkan drengki berarti belajar menerima bahwa setiap manusia memiliki perjalanan, kemampuan, kesempatan, dan waktunya masing-masing. Keberhasilan sesama dapat dijadikan inspirasi, bukan ancaman.
Dengan demikian, rasa iri dapat diubah menjadi dorongan untuk memperbaiki diri tanpa harus mengurangi kebahagiaan orang lain.
4. Sumeru atau Sengit.
Sumeru atau sengit merupakan kecenderungan menyimpan rasa benci, permusuhan, atau ketidaksukaan kepada seseorang dalam waktu yang panjang.
Pengalaman buruk memang dapat meninggalkan luka. Namun, luka tersebut dapat menjadi semakin berat apabila terus dihidupkan kembali melalui ingatan, kemarahan, dan keinginan membalas.
Seseorang mungkin merasa sedang menghukum orang lain dengan kebenciannya, padahal kebencian yang terus dipelihara justru membebani dirinya sendiri.
Membersihkan Sumeru bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain.
Memaafkan juga tidak selalu berarti melupakan peristiwa atau kembali mempercayai orang yang telah menyakiti.
Maknanya adalah melepaskan cipta dari ikatan kebencian agar kehidupan tidak terus dikendalikan oleh peristiwa masa lalu.
5. Sumedhot atau Wedi.
Sumedhot atau wedi merupakan kecenderungan cipta yang membuat seseorang dikuasai rasa takut sehingga kehilangan kejernihan dalam berpikir dan mengambil keputusan.
Rasa takut merupakan bagian alami dari kehidupan. Dalam keadaan tertentu, rasa takut bahkan dapat membantu manusia menghindari bahaya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika rasa takut mengambil alih cipta.
Manusia dapat mengetahui sesuatu sebagai benar, tetapi tidak berani melakukannya karena takut kehilangan kenyamanan, takut terhadap penilaian orang lain, takut gagal, atau takut menghadapi akibat dari keputusan yang diambil.
Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap menggunakan cipta secara jernih dan melakukan hal yang benar meskipun rasa takut masih hadir.
6. Salahe Pamawas atau Prasangka.
Salahe Pamawas atau prasangka adalah kecenderungan menetapkan penilaian sebelum memahami kenyataan secara lengkap.
Cipta membuat kesimpulan berdasarkan dugaan, kemudian memperlakukan dugaan tersebut seolah-olah merupakan kenyataan.
Prasangka dapat terjadi terhadap seseorang, keadaan, maupun suatu peristiwa. Seseorang dapat menilai orang lain hanya dari perkataan, penampilan, atau tindakan yang terlihat sekilas tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Karena itu, cipta yang bersih membutuhkan kebiasaan mengamati, mendengar, memeriksa, dan mempertimbangkan.
Tidak semua yang terlihat merupakan keseluruhan kenyataan.
Mawas berarti memberi kesempatan kepada kenyataan untuk berbicara sebelum cipta membuat kesimpulan.
7. Kepéngin Nguasani atau Mengkoni.
Kepéngin Nguasani atau mengkoni adalah kecenderungan untuk mengatur, memaksa, atau membuat orang lain mengikuti kehendak diri sendiri.
Keinginan menguasai biasanya muncul ketika seseorang menganggap bahwa pendapatnya paling baik dan karena itu orang lain harus mengikutinya.
Dalam kehidupan bersama, kecenderungan ini dapat merusak hubungan karena kebebasan orang lain tidak lagi dihargai.
Seseorang dapat memiliki kepemimpinan tanpa harus menguasai. Seseorang dapat memberikan nasihat tanpa memaksakan.
Seseorang dapat memiliki pendirian tanpa harus mematikan pendirian orang lain.
Karena itu, penguasaan yang paling utama bukanlah menguasai orang lain, melainkan mampu menguasai diri sendiri.
Manusia yang mampu mengendalikan cipta, rasa, dan karsanya memiliki kekuatan yang lebih bermakna daripada manusia yang hanya mampu memaksakan kehendak kepada sesamanya.
8. Kaserakahan atau Ora Wareg.
Kaserakahan atau ora wareg adalah kecenderungan untuk tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki.
Kaserakahan tidak hanya berkaitan dengan harta. Ia dapat muncul dalam keinginan memperoleh kedudukan, pujian, pengaruh, kekuasaan, perhatian, atau pengakuan yang tidak pernah berakhir.
Keinginan untuk berkembang sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Yang menjadi persoalan adalah ketika keinginan tidak lagi mengenal batas.
Manusia akhirnya terus mengejar sesuatu yang belum dimiliki dan tidak mampu menikmati apa yang sudah ada.
Cipta yang jernih belajar mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keserakahan, antara kemajuan dan ketidakpuasan yang tidak berujung.
Membersihkan Kaserakahan berarti belajar mengenal batas, merasa cukup, menerima apa yang telah dimiliki, serta menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan.
Kekayaan sejati bukan semata-mata banyaknya kepemilikan, tetapi kemampuan untuk merasa cukup dan menjalani kehidupan secara bermakna.
9. Lali Marang Kasunyatan atau Cidra
Lali Marang Kasunyatan atau cidra merupakan sumber penyimpangan yang paling mendasar. Keadaan ini menggambarkan manusia yang melupakan kenyataan hidup dan kehilangan eling terhadap Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan.
Ketika manusia terlalu mengikuti keinginan pribadi, pandangan sendiri, dan dorongan rasa tanpa mau memeriksa kenyataan, cipta semakin jauh dari kejernihan.
Dari keadaan tersebut berbagai penyimpangan lain dapat berkembang.
Pambengkakan Aku dapat muncul karena manusia lupa bahwa dirinya bukan pusat segala sesuatu.
Ngluru Ganjaran tumbuh karena kebaikan diukur berdasarkan balasan.
Drengki muncul karena keberhasilan orang lain dianggap mengancam diri.
Sengit tumbuh karena cipta terus terikat pada masa lalu.
Wedi menguasai karena manusia kehilangan kejernihan menghadapi kenyataan.
Prasangka muncul karena dugaan dianggap sebagai kenyataan.
Keinginan menguasai tumbuh karena kehendak pribadi ditempatkan di atas kebebasan sesama.
Kaserakahan berkembang karena manusia tidak lagi mengenal batas kecukupan.
Dengan demikian, Lali Marang Kasunyatan dapat dipandang sebagai akar yang memungkinkan berbagai penyimpangan cipta berkembang.
Kembali eling marang kasunyatan berarti kembali melihat kehidupan sebagaimana adanya, menyadari keterbatasan diri, menghargai sesama, dan mengingat Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan.
Nawa Malaning Cipta sebagai Pedoman Mawas Diri.
Kesembilan sumber penyimpangan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu tujuan, yaitu mengenali keadaan diri sendiri.
Nawa Malaning Cipta tidak mengajarkan manusia untuk mencari siapa yang kumingsun, siapa yang pamrih, siapa yang drengki, atau siapa yang serakah. Jika digunakan untuk menilai orang lain, kawruh ini justru dapat berubah menjadi sumber kesombongan baru.
Yang lebih penting adalah bertanya kepada diri sendiri:
Apakah aku masih merasa paling benar?
Apakah aku berbuat baik karena ketulusan atau karena mengharapkan balasan?
Apakah keberhasilan orang lain membuatku ikut bersyukur atau justru merasa terancam?
Apakah aku masih menyimpan kebencian terhadap masa lalu?
Apakah rasa takut sering menguasai keputusanku?
Apakah aku terlalu cepat menilai sebelum memahami kenyataan?
Apakah aku senang mengatur kehidupan orang lain?
Apakah aku selalu merasa kurang meskipun kebutuhan telah terpenuhi?
Apakah aku masih eling marang kasunyatan dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan Nawa Malaning Cipta sebagai sarana mawas diri.
Pembersihan cipta bukan pekerjaan sekali jadi. Kecenderungan-kecenderungan tersebut dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan keadaan kehidupan.
Karena itu, manusia perlu terus mengamati cipta, menata rasa, mengarahkan karsa, dan memeriksa laku.
Pada akhirnya, tujuan dari mengenali Nawa Malaning Cipta bukan sekadar menjadi manusia yang bebas dari sembilan penyimpangan tersebut, melainkan menjadi manusia yang semakin bening ciptanya, halus rasanya, utama karsanya, dan selaras lakunya.
Dengan cipta yang jernih, manusia tidak mudah dikuasai oleh aku, pamrih, iri, kebencian, ketakutan, prasangka, keinginan menguasai, maupun keserakahan.
Ia belajar hidup dengan lebih sederhana, jujur, tulus, adil, dan penuh persaudaraan.
Inilah makna penting Nawa Malaning Cipta dalam Kawruh Uttamopadesa, yaitu : bukan untuk mencari kesalahan di luar diri, tetapi untuk membersihkan apa yang masih menyimpang di dalam diri agar laku kehidupan semakin mendekati kasunyatan.
FAQ Nawa Malaning Cipta.
Apa yang dimaksud Nawa Malaning Cipta?
Nawa Malaning Cipta adalah sembilan sumber penyimpangan laku yang berasal dari kecenderungan cipta yang dapat mengaburkan kejernihan budi dan mempengaruhi rasa, karsa, serta perilaku manusia.
Apa saja sembilan Nawa Malaning Cipta?
Sembilan sumber penyimpangan tersebut adalah Pambengkakan Aku, Ngluru Ganjaran, Ora Rena Liyan, Sumeru, Sumedhot, Salahe Pamawas, Kepéngin Nguasani, Kaserakahan, dan Lali Marang Kasunyatan.
Apakah Nawa Malaning Cipta digunakan untuk menilai kesalahan orang lain?
Tidak. Nawa Malaning Cipta terutama digunakan sebagai cermin untuk mawas diri. Setiap orang perlu memeriksa kemungkinan adanya kecenderungan tersebut dalam dirinya sendiri.
Mengapa disebut sumber penyimpangan laku?
Karena penyimpangan laku dapat bermula dari keadaan cipta. Cipta yang tidak jernih dapat memengaruhi rasa dan karsa, kemudian diwujudkan melalui perkataan, keputusan, dan tindakan.
Apakah seseorang dapat mengalami lebih dari satu penyimpangan?
Ya. Kesembilan sumber tersebut dapat muncul bersamaan atau bergantian sesuai dengan keadaan seseorang dan situasi yang dihadapinya.
Apa yang dimaksud Lali Marang Kasunyatan sebagai akar penyimpangan?
Lali Marang Kasunyatan menggambarkan keadaan ketika manusia kehilangan eling terhadap kenyataan hidup dan Hyang Manon sebagai Sumber Panguripan. Dari keadaan tersebut berbagai penyimpangan lain dapat lebih mudah berkembang.
Bagaimana cara membersihkan Nawa Malaning Cipta?
Caranya melalui mawas diri secara terus-menerus: mengenali gerak cipta, menata rasa, mengarahkan karsa, memeriksa laku, menerima kekurangan diri, serta berusaha hidup sesuai kenyataan dan kebaikan.
Apa tujuan akhir mempelajari Nawa Malaning Cipta?
Tujuan akhirnya adalah membantu manusia menjadi lebih jernih dalam cipta, lebih halus dalam rasa, lebih utama dalam karsa, dan lebih selaras dalam laku sehingga kehidupan dapat dijalani dengan ketulusan dan persaudaraan.
**Lihat sumber artikel :
NAWA MALANING CIPTA UTTAMOPADESA.

Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar dengan sopan, jangan spam.