KESELARASAN CIPTA, RASA DAN KARSA

keselarasan cipta, rasa dan karsa
Manusia menjalani kehidupan melalui berbagai proses yang saling berhubungan. Manusia memahami sesuatu, merasakan sesuatu, kemudian menentukan apa yang akan dilakukan. Ketiga proses tersebut sering kali berjalan bersama, tetapi tidak selalu berada dalam keadaan selaras.

Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu tindakan tidak baik, tetapi tetap melakukannya. Seseorang dapat merasakan kasih kepada orang lain, tetapi memilih tindakan yang justru menyakiti. Seseorang juga dapat mempunyai kehendak yang kuat tanpa mempertimbangkan akibat dari tindakannya.

Keadaan seperti ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan atau keinginan. Manusia juga membutuhkan keselarasan antara cipta, rasa, dan karsa.

Gagasan mengenai keselarasan tersebut menjadi salah satu dasar dalam Purnata Jiwana Uttamopadesa, sebuah wedharan yang disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

Namun, keselarasan cipta, rasa, dan karsa dapat dipahami lebih luas sebagai persoalan kehidupan manusia sehari-hari.

Cipta, Rasa, dan Karsa sebagai Tiga Sisi Kehidupan.
Cipta berkaitan dengan kemampuan memahami. Rasa berkaitan dengan kemampuan menghayati.Karsa berkaitan dengan kehendak untuk melakukan.
Ketiganya mempunyai fungsi yang berbeda.

Cipta membantu manusia membedakan dan memahami. Rasa membantu manusia mengalami kedalaman hubungan dengan kehidupan. Karsa menggerakkan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak. Jika ketiganya berjalan selaras, pemahaman, penghayatan, dan tindakan dapat saling mendukung.

Sebaliknya, jika ketiganya berjalan sendiri-sendiri, manusia dapat mengalami pertentangan dalam dirinya.

Ketika Cipta dan Karsa Tidak Selaras
Bayangkan seseorang mengetahui bahwa berbohong merupakan tindakan yang tidak baik.

Ciptanya memahami hal tersebut. Namun karena ingin memperoleh keuntungan, karsanya memilih berbohong. Di sini terdapat jarak antara pemahaman dan tindakan.

Keadaan serupa dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

Seseorang memahami pentingnya menjaga hubungan, tetapi tetap berkata kasar karena marah.

Seseorang mengetahui pentingnya menjaga kepercayaan, tetapi mengingkari janji karena kepentingan pribadi.

Seseorang memahami pentingnya kesehatan kehidupan bersama, tetapi memilih tindakan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri.

Persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan.

Persoalannya adalah tidak selarasnya pemahaman dengan kehendak dan tindakan.

Ketika Rasa Menguasai Cipta.
Rasa juga dapat menjadi sangat kuat sehingga mempengaruhi cara manusia memahami keadaan.

Ketika seseorang sedang marah, kesalahan kecil dapat terlihat sangat besar.

Ketika seseorang sedang iri, keberhasilan orang lain dapat terasa seperti ancaman.

Ketika seseorang sedang kecewa, kebaikan yang pernah diterima dapat terlupakan.

Karena itu, rasa membutuhkan kejernihan cipta. Manusia perlu memberikan ruang agar perasaan tidak langsung menjadi satu-satunya dasar penilaian.

Hal ini tidak berarti rasa harus ditekan.
Rasa tetap penting.

Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menyadari bahwa apa yang dirasakan belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.

Ketika Cipta Berjalan Tanpa Rasa.
Sebaliknya, kehidupan juga dapat menjadi tidak seimbang ketika manusia hanya mengandalkan pertimbangan cipta tanpa kepekaan rasa.

Pengetahuan dapat menjelaskan sesuatu secara logis, tetapi kehidupan manusia juga membutuhkan kepedulian.

Keputusan dapat terlihat benar secara pertimbangan tertentu, tetapi cara menyampaikannya dapat melukai orang lain.

Karena itu, kejernihan memahami perlu disertai kedalaman menghayati.

Cipta membantu manusia melihat dengan lebih jelas.

Rasa membantu manusia menyadari bahwa kehidupan juga menyangkut manusia lain.

Dari sinilah keselarasan mulai terbentuk.

Keselarasan Bukan Berarti Semuanya Harus Sama.
Keselarasan tidak berarti cipta, rasa, dan karsa harus mempunyai bentuk yang sama.
Ketiganya justru mempunyai fungsi yang berbeda.

Keselarasan berarti ketiganya berjalan menuju arah yang tidak saling bertentangan.

Demikian pula dalam hubungan antarmanusia.

Keselarasan tidak berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama.

Perbedaan tetap ada. Perbedaan pemikiran, watak, pengalaman, kebutuhan, dan pilihan merupakan bagian dari kehidupan.

Yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dijalani tanpa harus saling merusak.

Karena itu, keselarasan lebih dekat dengan kemampuan menempatkan perbedaan dalam hubungan yang tertata.

Dari Memahami Menuju Menghayati.
Pemahaman yang baik dapat menjadi dasar bagi penghayatan yang lebih baik.

Ketika manusia memahami bahwa orang lain juga mempunyai kebutuhan, perasaan, keterbatasan, dan pengalaman, ia mempunyai kesempatan untuk membangun hubungan dengan lebih bijaksana.

Namun pemahaman tersebut perlu dihidupkan dalam rasa.

Mengetahui bahwa seseorang sedang kesulitan berbeda dengan benar-benar memiliki kepedulian terhadap kesulitannya.

Mengetahui pentingnya menghormati orang lain berbeda dengan membiasakan diri menghormati dalam kehidupan nyata.

Karena itu, hubungan antara cipta dan rasa perlu diwujudkan dalam laku.

Dari Menghayati Menuju Bertindak.
Rasa yang baik juga membutuhkan tindakan.

Seseorang dapat merasakan kepedulian, tetapi kepedulian akan lebih nyata ketika diwujudkan.

Seseorang dapat menghargai kejujuran, tetapi penghargaan tersebut menjadi nyata ketika ia memilih berkata jujur.

Seseorang dapat mencintai kehidupan, tetapi cinta tersebut perlu terlihat dalam cara memperlakukan kehidupan.

Di sinilah karsa mempunyai kedudukan penting.

Karsa menjadi penghubung antara apa yang dipahami dan apa yang dihayati dengan apa yang dilakukan.

Keselarasan sebagai Dasar Pembentukan Diri.
Keselarasan cipta, rasa, dan karsa tidak terbentuk dalam satu waktu. Ia tumbuh melalui kebiasaan.

Manusia perlu terus memeriksa apakah yang dipahami sudah sesuai dengan yang dirasakan dan dilakukan.

Ada kalanya seseorang perlu mengubah pemahamannya.

Ada kalanya seseorang perlu menata kembali perasaannya.

Ada kalanya seseorang perlu memperbaiki tindakannya.

Semua itu merupakan bagian dari pembentukan diri.

Karena itu, keselarasan bukan sesuatu yang cukup dibicarakan.

Ia perlu dilatih.

Keselarasan dalam Keluarga.
Keluarga merupakan salah satu tempat paling dekat untuk melihat hubungan antara cipta, rasa, dan karsa.

Memahami anggota keluarga membutuhkan cipta.

Merasakan keadaan mereka membutuhkan rasa.

Memperlakukan mereka dengan baik membutuhkan karsa.

Ketiganya diperlukan secara bersama.

Mengetahui bahwa anggota keluarga sedang mengalami kesulitan belum cukup jika tidak disertai kepedulian.

Memiliki rasa sayang belum cukup jika tidak diwujudkan dalam tindakan.

Karena itu, kehidupan keluarga dapat menjadi ruang untuk melatih keselarasan.

Keselarasan dalam Kehidupan Sosial.
Dalam kehidupan sosial, keselarasan semakin penting karena manusia berhadapan dengan banyak perbedaan.

Manusia tidak selalu mendapatkan orang yang sesuai dengan keinginannya.

Ada orang dengan pandangan berbeda.

Ada orang dengan kebiasaan berbeda.

Ada orang dengan cara berpikir berbeda.

Keselarasan membantu manusia menghadapi perbedaan tanpa kehilangan penghormatan terhadap sesama.

Hal tersebut bukan berarti semua perbedaan harus diterima tanpa pertimbangan.

Manusia tetap dapat menilai tindakan.

Namun penilaian terhadap suatu tindakan tidak harus berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi.

Hubungan dengan Purnata Jiwana.
Dalam kerangka Purnata Jiwana Uttamopadesa, keselarasan cipta, rasa, dan karsa menjadi dasar untuk mengupayakan keutuhan kehidupan.

Ketiganya dirumuskan sebagai:

Cipta Wening memberikan kejernihan dalam memahami.

Tulusing Rasa menjadi dasar keselarasan hubungan.

Karsa Utama menjadi dasar untuk mewujudkan pemahaman dan penghayatan dalam laku.

Dengan demikian, ketiganya membentuk satu rangkaian.

Pemahaman tidak berhenti pada pengertian.

Penghayatan tidak berhenti pada perasaan.

Kehendak tidak berjalan tanpa arah.

Ketiganya bertemu dalam kehidupan nyata.

Keselarasan dan Keutuhan Hidup.
Kehidupan menjadi semakin utuh ketika apa yang dipahami, dihayati, dan dilakukan tidak terus-menerus saling bertentangan.

Manusia tentu tetap dapat mengalami kekeliruan.

Keselarasan bukan keadaan tanpa kesalahan.
Keselarasan adalah kemampuan untuk terus kembali menata diri ketika menemukan ketidaksesuaian.

Ketika pemahaman keliru, diperbaiki.
Ketika rasa menjadi keruh, dijernihkan.
Ketika tindakan menyimpang, dibenahi.

Dengan cara demikian, keselarasan menjadi sebuah perjalanan.

Penutup.
Cipta, rasa, dan karsa merupakan tiga unsur yang mempunyai hubungan erat dalam kehidupan manusia.

Cipta membantu manusia memahami. Rasa membantu manusia menghayati. Karsa membantu manusia mewujudkan.

Ketika ketiganya berjalan sendiri-sendiri, kehidupan dapat mengalami pertentangan.
Ketika ketiganya mulai selaras, manusia mempunyai dasar untuk menjalani kehidupan dengan lebih tertata.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Purnata Jiwana Uttamopadesa merupakan salah satu rumusan yang menguraikan tatanan menuju keutuhan kehidupan melalui keselarasan tersebut.

Purnata Jiwana disusun oleh Dhimas Purnomo sebagai bagian dari pengembangan pemikiran Kawruh Uttamopadesa.

Keselarasan cipta, rasa, dan karsa pada akhirnya bukan sekadar konsep.

Ia perlu terlihat dalam cara manusia memahami keadaan, memperlakukan sesama, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.

FAQ Keselarasan Cipta, Rasa dan Karsa.

1. Apa yang dimaksud keselarasan cipta, rasa, dan karsa?
Keselarasan cipta, rasa, dan karsa adalah keadaan ketika pemahaman, penghayatan, dan kehendak untuk bertindak dapat berjalan secara tertata dan tidak saling bertentangan.

2. Mengapa cipta, rasa, dan karsa perlu selaras?
Karena manusia tidak hanya berpikir, tetapi juga merasakan dan bertindak. Ketiganya mempengaruhi bagaimana seseorang menjalani kehidupan.

3. Apakah keselarasan berarti tidak boleh mempunyai perbedaan pendapat?
Tidak. Keselarasan tidak menghapus perbedaan. Keselarasan berarti perbedaan dapat dijalani tanpa harus saling merusak.

4. Apa hubungan keselarasan cipta, rasa, dan karsa dengan Purnata Jiwana?
Keselarasan ketiganya merupakan dasar Purnata Jiwana dalam mengupayakan kehidupan yang semakin utuh.

5. Siapa yang menyusun Purnata Jiwana Uttamopadesa?
Purnata Jiwana Uttamopadesa disusun oleh Dhimas Purnomo dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa.

6. Bagaimana menerapkan keselarasan tersebut?
Dengan membiasakan diri memahami secara jernih, menghayati secara tulus, mempertimbangkan akibat tindakan, dan mewujudkan pilihan dalam laku yang baik.

Komentar