9 JALAN PEMBENAHAN DIRI

nawa pambening

Laku Menjernihkan Cipta, Membersihkan Rasa, dan Menata Karsa

Pendahuluan.
Memahami kehidupan tidak cukup hanya dengan memiliki banyak pengetahuan. Seseorang dapat membaca berbagai ajaran, mengenal banyak istilah, bahkan mampu menjelaskan pandangan tentang manusia dan kehidupannya.

Namun, semua pemahaman tersebut belum tentu membawa perubahan apabila tidak memengaruhi cara berpikir, cara merasakan, cara menentukan pilihan, dan cara menjalani kehidupan.

Pengetahuan baru memperoleh arti yang lebih dalam ketika menjadi bagian dari diri. Apa yang dipahami tidak hanya tinggal sebagai isi pikiran, melainkan tampak dalam sikap dan perbuatan.

Dalam kerangka Kawruh Sejati dan Uttamopadesa, kawruh bukan sesuatu yang dimaksudkan untuk berhenti pada pengertian. Kawruh perlu dihayati dan diwujudkan. Dari sinilah muncul kebutuhan akan laku, yaitu jalan untuk membawa pemahaman ke dalam kehidupan yang benar-benar dijalani.

Serat Nawa Pambening hadir dalam kedudukan tersebut.

Nawa Pambening berisi sembilan laku yang dapat digunakan sebagai jalan pembenahan diri. Perhatiannya tidak diarahkan kepada sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Justru sebaliknya, yang menjadi perhatian utama adalah sesuatu yang selalu menyertai manusia, yaitu cipta, rasa, dan karsa.

Kesembilan laku tersebut adalah Wening Cipta, Wening Rasa, Jujur Marang Dhiri, Ngendhaleni Cipta, Ngresiki Rasa, Nata Karsa, Tepa Slira, Laku Sederhana, dan Mawas Dhiri.

Semua laku itu dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak diperlukan tempat khusus atau keadaan tertentu.

Latihan dapat dilakukan ketika seseorang menghadapi persoalan, menerima kabar, berhubungan dengan orang lain, mengalami gejolak perasaan, mempunyai keinginan, atau ketika harus menentukan suatu tindakan.
Karena itu, Nawa Pambening dapat dipahami sebagai jalan untuk mendekatkan kawruh kepada kenyataan hidup.

Kawruh Sejati memberikan pepadhang. Uttamopadesa menunjukkan arah. Nawa Pambening menjadi jalan untuk melatih diri agar arah tersebut benar-benar diwujudkan dalam kehidupan.

Dari Pangerten Menuju Laku.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang kehidupan, tetapi pengetahuan belum tentu selalu sejalan dengan perilakunya.

Orang dapat memahami pentingnya kejernihan pikiran, tetapi masih mudah percaya pada dugaan yang belum jelas.
Seseorang dapat berbicara tentang ketenangan, tetapi ketika menghadapi persoalan kecil segera dikuasai kemarahan.
Ada pula yang memahami pentingnya hidup selaras dengan sesama, tetapi masih memandang orang lain hanya dari sudut kepentingan dirinya sendiri.

Keadaan seperti ini menunjukkan adanya jarak antara apa yang telah dipahami dan apa yang benar-benar dijalani.

Di sinilah laku mempunyai arti.

Dalam Kawruh Sejati, pemahaman seharusnya tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi pepadhang bagi kehidupan. Kawruh
Kasunyatan menjadi jalan bagi manusia untuk membenahi dirinya berdasarkan pemahaman terhadap kenyataan.
Pembenahan tersebut kemudian membutuhkan pelaksanaan yang nyata.

Nawa Pambening dapat dipandang sebagai salah satu jalan untuk menjalankan proses itu.

Melalui sembilan laku, manusia diajak melihat kembali dirinya sendiri. Bukan untuk mencari kesalahan orang lain, melainkan untuk memperhatikan bagaimana cipta bekerja, bagaimana rasa bergerak, dan bagaimana karsa mendorong seseorang bertindak.

Dengan demikian, ukuran kawruh bukan semata-mata terletak pada kemampuan seseorang menjelaskan suatu ajaran.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah apa yang saya pahami sudah memengaruhi cara saya menjalani kehidupan?

Pertanyaan tersebut membawa manusia kembali kepada dirinya sendiri.

Nawa Pambening sebagai Laku Membentuk Diri.
Nawa Pambening merupakan sembilan jalan latihan yang saling berkaitan. Masing-masing mempunyai perhatian tersendiri, tetapi seluruhnya bergerak menuju pembenahan diri.

1. Wening Cipta
Wening Cipta merupakan latihan untuk menjernihkan cara berpikir dan cara memandang kenyataan.

Manusia sering kali tidak melihat sesuatu sebagaimana adanya. Pandangan dapat dipengaruhi oleh prasangka, kekhawatiran, kepentingan pribadi, pengalaman masa lalu, atau dugaan yang belum tentu benar.

Akibatnya, persoalan yang sebenarnya sederhana dapat menjadi besar karena pikiran telah lebih dahulu membentuk penilaian.

Wening Cipta mengajak seseorang untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Apa yang belum jelas tidak perlu segera dianggap benar. Apa yang didengar tidak harus langsung dipercaya. Pikiran perlu diberi kesempatan untuk melihat keadaan dengan lebih jernih.

2. Wening Rasa
Selain pikiran, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh gerak rasa.

Satu peristiwa dapat menghasilkan tanggapan yang berbeda pada setiap orang.
Ada yang dapat menerimanya dengan tenang, sementara yang lain merasa tersinggung, kecewa, marah, atau terluka.
Wening Rasa merupakan latihan untuk mengenali apa yang sedang terjadi dalam batin.

Ketika rasa mulai bergerak kuat, seseorang tidak harus segera mengikuti dorongan tersebut. Ia dapat berhenti sejenak, memperhatikan apa yang sedang dirasakan, lalu memahami dari mana perasaan itu muncul.

Dengan demikian, manusia tidak selalu menjadi orang yang hanya mengikuti gejolak batinnya.

3. Jujur Marang Dhiri.
Pembenahan diri tidak akan berjalan apabila seseorang terus-menerus menolak melihat keadaan dirinya sendiri.

Jujur Marang Dhiri adalah keberanian untuk mengakui kenyataan tentang diri apa adanya.
Jika salah, berani mengakui kesalahan. Jika mempunyai kelemahan, tidak perlu selalu menutupinya. Jika suatu tindakan didorong oleh kepentingan pribadi, keadaan tersebut perlu disadari.

Kejujuran terhadap diri sendiri sering kali lebih sulit daripada kejujuran kepada orang lain.

Manusia dapat dengan mudah menemukan kesalahan di luar dirinya, tetapi belum tentu mudah melihat apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya sendiri.

Karena itu, Jujur Marang Dhiri menjadi dasar penting bagi setiap proses pambening.

4. Ngendhaleni Cipta.
Pikiran mempunyai kemampuan bergerak ke berbagai arah. Sering kali sesuatu yang belum terjadi telah lebih dahulu dipenuhi berbagai dugaan.

Pangira-ira dapat berkembang tanpa batas. Dari satu dugaan muncul dugaan lainnya. Pada akhirnya, manusia dapat merasa takut, marah, atau kecewa terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Ngendhaleni Cipta mengajarkan agar pikiran tidak dibiarkan berjalan tanpa arah. Mengendalikan cipta bukan berarti menghentikan manusia untuk berpikir.

Sebaliknya, latihan ini membantu manusia agar dapat membedakan antara kenyataan, dugaan, dan keinginan pribadi. Dengan cipta yang lebih terkendali, seseorang tidak mudah diperintah oleh pikirannya sendiri.

5. Ngresiki Rasa.
Rasa yang terus menyimpan kemarahan, iri, kecewa, kebencian, atau sakit hati dapat menjadi beban dalam kehidupan.

Berbagai pengalaman memang dapat meninggalkan jejak dalam batin. Namun, apabila semuanya terus dipelihara, rasa dapat semakin berat dan akhirnya mempengaruhi hubungan dengan orang lain maupun cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Ngresiki Rasa merupakan laku untuk mengenali dan melepaskan berbagai kekotoran batin yang tidak perlu terus dibawa.

Proses ini bukan berarti manusia tidak boleh merasa marah atau kecewa. Semua rasa dapat muncul sebagai bagian dari kehidupan.
Yang penting adalah manusia tidak terus-menerus membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa tersebut.

Rasa perlu disadari, dipahami, dan secara perlahan dibersihkan.

6. Nata Karsa.
Keinginan dapat menjadi kekuatan yang membawa manusia melakukan sesuatu. Namun, tidak semua keinginan harus segera diikuti.

Karsa perlu ditata agar manusia tidak hanya bergerak berdasarkan dorongan sesaat. Sebelum mengambil tindakan, seseorang dapat mempertimbangkan akibatnya. Ia dapat bertanya apakah keinginannya akan membawa kebaikan atau justru menimbulkan persoalan baru.

Nata Karsa mengajarkan adanya jarak antara munculnya keinginan dan tindakan. Keinginan boleh datang, tetapi manusia tetap mempunyai kesempatan untuk menentukan apakah keinginan tersebut patut diwujudkan atau tidak.

Dengan demikian, tindakan tidak hanya menjadi hasil dari dorongan, melainkan juga dari kesadaran dan pertimbangan.

Pembenahan Diri dalam Hubungan dengan Sesama.
Nawa Pambening tidak hanya berbicara mengenai keadaan batin seseorang. Laku ini juga berhubungan dengan cara manusia hidup bersama dengan orang lain.

7. Tepa Slira.
Tepa Slira mengajarkan kemampuan untuk memahami bahwa setiap orang mempunyai keadaan, pengalaman, dan persoalannya sendiri.

Manusia tidak selalu dapat mengharapkan orang lain berpikir, merasakan, atau bertindak sama seperti dirinya.

Karena itu, kehidupan bersama memerlukan kemampuan untuk melihat keadaan dari sisi yang lebih luas.

Tepa Slira bukan berarti seseorang harus selalu menyetujui semua tindakan orang lain. Laku ini juga tidak berarti kehilangan prinsip hidup. Tepa Slira adalah usaha untuk tetap menghargai sesama sambil mempertahankan kesadaran terhadap diri sendiri.

Dengan demikian, hubungan antarmanusia dapat dibangun tanpa harus selalu didasarkan pada keinginan untuk menang sendiri.

8. Laku Sederhana.
Kehidupan sering kali mendorong manusia untuk terus mengejar lebih banyak hal.
Lebih banyak harta, lebih banyak pengakuan, lebih tinggi kedudukan, atau lebih besar kemewahan sering dijadikan ukuran keberhasilan.

Nawa Pambening mengajarkan Laku Sederhana sebagai jalan untuk tidak menjadikan keberlebihan sebagai pusat kehidupan.

Kesederhanaan bukan berarti menolak segala sesuatu yang dimiliki. Bukan pula berarti manusia tidak boleh berusaha memperbaiki kehidupannya.

Laku Sederhana adalah kesadaran untuk mengetahui batas kebutuhan dan tidak membiarkan keinginan terus berkembang tanpa kendali.

Manusia dapat memiliki sesuatu tanpa harus diperbudak oleh keinginan untuk selalu memiliki lebih banyak.

9. Mawas Dhiri.
Mawas Dhiri merupakan laku untuk terus melihat kembali diri sendiri.

Apa yang telah dikatakan, bagaimana sikap yang telah ditunjukkan, keputusan apa yang telah diambil, serta akibat dari tindakan yang dilakukan perlu sesekali ditinjau kembali.

Manusia dapat melakukan kesalahan tanpa segera menyadarinya. Ada kebiasaan yang terus dilakukan hanya karena sudah berlangsung lama. Ada pula pandangan yang dianggap benar karena belum pernah dilihat dari sisi lain.

Mawas Dhiri membuka ruang untuk melakukan pembetulan. Melalui laku ini, manusia tidak berhenti pada penilaian bahwa dirinya sudah benar. Sebaliknya, ia terus memberi kesempatan kepada dirinya untuk belajar.

Cipta, Rasa, dan Karsa Harus Berjalan Bersama.
Dasar utama pembenahan dalam Nawa Pambening adalah cipta, rasa, dan karsa.
Ketiganya tidak berdiri sendiri.

Cipta berkaitan dengan cara manusia memahami dan memandang sesuatu. Rasa memberikan tanggapan batin terhadap apa yang dialami. Sementara karsa menjadi dorongan yang membawa manusia menuju tindakan.

Apabila cipta dipenuhi prasangka, rasa dapat ikut terbentuk oleh prasangka tersebut. Ketika rasa telah dikuasai kemarahan, karsa dapat mendorong manusia melakukan tindakan tanpa pertimbangan.

Sebaliknya, ketika cipta lebih jernih, rasa dapat lebih mudah dikenali. Ketika rasa tidak terlalu dikuasai gejolak, karsa mempunyai kesempatan untuk ditata dengan lebih baik.

Karena itulah pembenahan diri tidak cukup hanya dilakukan pada satu bagian.

Cipta perlu dibeningkan.
Rasa perlu dibersihkan.
Karsa perlu ditata.
Ketiganya merupakan bagian dari satu proses.

Nawa Pambening dalam Kehidupan Sehari-hari.
Kesembilan laku tersebut tidak harus dijalankan sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan.

Ketika seseorang menerima berita yang belum jelas, lalu memilih memeriksa dan memikirkan kembali sebelum mempercayainya, ia sedang melatih Wening Cipta dan Ngendhaleni Cipta.

Ketika muncul kemarahan, tetapi seseorang tidak langsung melampiaskannya dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya, ia sedang melatih Wening Rasa.

Ketika rasa iri, kecewa, atau benci mulai disadari dan tidak terus dipelihara, di situ terdapat usaha Ngresiki Rasa.

Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya telah melakukan kesalahan dan berani mengakuinya, ia menjalankan Jujur Marang Dhiri.

Ketika keinginan muncul tetapi tidak langsung diwujudkan sebelum mempertimbangkan akibatnya, ia sedang belajar Nata Karsa.

Ketika seseorang mampu memperhatikan keadaan orang lain tanpa harus kehilangan kesadaran terhadap dirinya sendiri, ia sedang menjalankan Tepa Slira.

Ketika keberhasilan tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta atau kemewahan, Laku Sederhana mulai menemukan tempatnya.

Dan ketika seseorang mau melihat kembali perkataan serta tindakannya untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki, ia sedang menjalankan Mawas Dhiri.

Dengan demikian, Nawa Pambening bukan laku yang jauh dari kehidupan.

Justru kehidupan sehari-hari merupakan tempat utama untuk menjalankannya.

Pambening Bukan Berarti Menjadi Manusia Tanpa Kekeliruan.
Tidak ada tuntutan dalam Nawa Pambening bahwa seseorang harus segera menjadi manusia yang sempurna.

Manusia dapat salah memahami keadaan. Manusia dapat terbawa emosi. Seseorang dapat mengambil keputusan yang keliru, meskipun sebelumnya telah memahami apa yang dianggap baik.

Kekeliruan merupakan bagian dari perjalanan kehidupan. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan tersebut disadari. Apakah seseorang bersedia melihat kembali tindakannya? Apakah ia mampu mengakui apa yang telah terjadi? Apakah ia mempunyai kemauan untuk memperbaiki diri?

Di sinilah nilai pambening menjadi penting.
Pambening bukan jalan untuk membuktikan bahwa seseorang lebih baik daripada orang lain. Semakin manusia berusaha menjernihkan dirinya, semakin ia dapat melihat bahwa pembenahan diri merupakan proses yang perlu terus dilakukan.

Kejernihan tidak menjadi sesuatu untuk dibanggakan.

Kejernihan adalah sesuatu yang perlu dijaga dan dilatih.

Kedudukan Nawa Pambening dalam Uttamopadesa.
Dalam Uttamopadesa, laku bukan hanya sesuatu yang tampak dari luar. Laku merupakan proses pembentukan diri.

Apa yang telah dipahami melalui kawruh perlu memperoleh wujud dalam kehidupan.
Kawruh Sejati memberikan pepadhang untuk memahami kehidupan dan mengenali arah perjalanan manusia.

Uttamopadesa memberikan tuntunan dalam menjalani proses tersebut.

Nawa Pambening kemudian menyediakan sembilan laku praktis untuk membawa tuntunan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

Cipta yang semakin wening membantu manusia melihat keadaan dengan lebih jernih.

Rasa yang semakin resik membantu manusia agar tidak selalu dikuasai oleh gejolak batin.

Karsa yang semakin tertata membantu manusia menentukan tindakan dengan lebih sadar.

Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam waktu singkat. Namun, melalui latihan yang dilakukan terus-menerus, perubahan dapat tumbuh menjadi bagian dari watak dan perilaku.

Tujuan akhirnya bukan agar seseorang tampak pandai berbicara mengenai kehidupan yang baik.

Tujuannya adalah agar cara hidupnya sendiri semakin menunjukkan kejernihan.

Bukan hanya berbicara mengenai persaudaraan, tetapi mampu memperlakukan sesama dengan lebih baik.

Bukan hanya mengetahui arti pengendalian diri, tetapi mampu menahan diri ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Bukan hanya memahami pentingnya pembenahan batin, tetapi benar-benar berani melihat apa yang masih perlu dibenahi dalam diri.

Di situlah Nawa Pambening memperoleh makna praktisnya.

Penutup.
Sembilan laku dalam Nawa Pambening merupakan jalan pembenahan diri yang dapat dijalankan dari kehidupan sehari-hari.

Jalannya tidak dimulai dari sesuatu yang jauh, melainkan dari diri sendiri.
Dari bagaimana manusia berpikir.
Dari bagaimana manusia memahami dan mengolah rasa.
Dari bagaimana manusia menata keinginan sebelum mengubahnya menjadi tindakan.

Wening Cipta, Wening Rasa, Jujur Marang Dhiri, Ngendhaleni Cipta, Ngresiki Rasa, Nata Karsa, Tepa Slira, Laku Sederhana, dan
Mawas Dhiri merupakan sembilan laku yang saling mendukung dalam proses tersebut.

Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati dan Uttamopadesa, Nawa Pambening menjadi jalan yang menghubungkan pangerten dengan pelaksanaan.

Kawruh Sejati memberi pepadhang.
Uttamopadesa menunjukkan dalan.
Nawa Pambening mengajak manusia nglakoni dalan kasebut dalam kehidupan nyata.

Pada akhirnya, nilai suatu kawruh tidak hanya terletak pada seberapa banyak seseorang mengetahui atau seberapa indah ia menjelaskan pemahamannya.

Kawruh memperoleh arti ketika mampu membentuk cara manusia memandang kehidupan, merasakan berbagai keadaan, menentukan pilihan, dan memperlakukan sesamanya.

Cipta dibeningake, rasa diresiki, karsa ditata. Saka pambeninging dhiri, beciking laku tuwuh lan ngrembaka ing panguripan saben dina.

FAQ tentang Nawa Pambening.
Apa yang dimaksud dengan Nawa Pambening?
Nawa Pambening adalah sembilan laku pembenahan diri yang diarahkan pada kejernihan cipta, kebersihan rasa, dan penataan karsa dalam kehidupan sehari-hari.

Apa hubungan Nawa Pambening dengan Kawruh Sejati?
Nawa Pambening menjadi jalan praktis untuk membawa pemahaman Kawruh Sejati ke dalam sikap dan perilaku. Kawruh memberikan pepadhang, sedangkan laku menjadi cara untuk menjalankannya.

Bagaimana kedudukan Nawa Pambening dalam Uttamopadesa?
Nawa Pambening merupakan bagian dari latihan pembentukan diri yang sejalan dengan arah Uttamopadesa. Fokusnya adalah pembenahan cipta, rasa, dan karsa melalui sembilan laku.

Apa saja sembilan laku Nawa Pambening?
Sembilan laku tersebut adalah:
1. Wening Cipta
2. Wening Rasa
3. Jujur Marang Dhiri
4. Ngendhaleni Cipta
5. Ngresiki Rasa
6. Nata Karsa
7. Tepa Slira
8. Laku Sederhana
9. Mawas Dhiri

Apakah Nawa Pambening hanya untuk orang yang sudah memahami Kawruh Sejati?
Tidak. Nawa Pambening dapat mulai dijalankan oleh siapa pun melalui latihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu menunggu sampai merasa memiliki pemahaman yang sempurna.

Apa tujuan utama Nawa Pambening?
Tujuan utamanya adalah membantu manusia melakukan pembenahan diri sehingga cipta menjadi lebih wening, rasa semakin resik, dan karsa lebih tertata. Dengan demikian, pemahaman tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan.

*Baca atau download Serat Nawa Pambening Uttamopadesa*  

Kawruh lain yang juga penting:
MAKNA GURU SEJATI.

majapahit uttamopadesa

Komentar